Half of My Heart: Epilog.

Islam dari masa ke masa

BAB I
PENDAHULUAN

Islam merupakan agama yang universal dan rahmatal lil alamin, untuk siapa saja, dimana saja berada dan kapan saja. Agama Islam merupakan satu-satunya agama yang mampu menyesuaikan diri dalam kondisi apapun tanda menghilangkan nilai-nilai dasar (substansial) dari ajaran Islam yang luhur. Hal itulah yang menyebabkan kenapa Islam dapat berlaku selama-lamanya dan dimanapun (Al-Islamu haqqun likuli zaman wa makan), tidak musnah termakan zaman yang senantiasa dinamis dan menuntut perubahan.
Berbicara Islam pada masa kini tidak dapat dilepaskan dari sejarah kelahiran dan pertumbuhan Islam pada masa silam. Kemunculan agama Islam sekitar abad keenam masehi tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat Arab pada masa itu yang kita kenal dengan zaman jahiliyahnya. Kondisi sosial bangsa Arab itulah yang menyebabkan kenapa hukum islam lebih cenderung bersifat “keras” dan “tegas” terutama dalam masalah jinayah (hukum pidana). Sehingga dapat kita katakan bahwa kondisi sosial suatu masyarakat atau bangsa akan berpengaruh terhadap produk hukum yang diberlakukan dalam masyarakat tersebut.
Untuk lebih lanjutnya makalah kami akan sedikit menguraikan kondisi masyarakat bangsa Arab pada awal lahirnya agama Islam serta pengaruhnya terhadap hukum Islam pada masa Nabi dan para sahabatnya. Semoga makalah ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam rangka menambah khazanah keilmuan kita. Tiada gading yang tak retak, mohon kritik dan sarannya demi perbaikan yang lebih baik.

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONDISI SOSIAL BANGSA ARAB
Bangsa Arab adalah penduduk asli jazirah Arab. Semenanjung yang terletak di bagian barat daya Asia ini. Sebagian besar permukaannya terdiri dari padang pasir. Secara iklim di jazirah Arab amat panas, bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi ini.
Dari segi pemukimannya, bangsa Arab dapat dibedakan atas ahl al-badawi dan ahl al-hadlar. Kaum Badawi adalah penduduk padang pasir. Mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap, tetapi hidup secara nomadem, berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain untuk mencari sumber air dan padang rumput. Mata penghidupan mereka adalah berternak kambing, biri-biri, kuda, dan unta. Kehidupan masyarakat Badawi yang nomadem tidak banyak memberikan peluang kepada mereka untuk membangun kebudayaan. Karenanya, sejarah mereka tidak diketahui dengan tepat dan jelas. Ahl al-hadlar ialah penduduk yang sudah bertempat tinggal tetap dikota-kota atau daerah ditempat yang subur. Mereka hidup dari berdagang, bercocok tanam, dan industri. Berbeda dengan masyarakat Badawi, mereka memiliki peluang yang besar untuk membangun kebudayaan, sehingga sejarah mereka bisa diketahui dengan jelas dibanding dengan kaum Badawi.
Bangsa Arab termasuk rumpun bangsa semit, yaitu keturunan Sam ibn Nuh, serumpun dengan bangsa Babilonia, Kaldea, Asyuria, Ibrani, Phunisia, Aram dan Habsyi. Bangsa Arablah rumput semit yang sekarang masih bertahan, sedangkan sebagian besar yang lain sudah lenyap dan tidak dikenal lagi.
Dalam bidang ekonomi bangsa Arab memiliki beberapa tempat mereka berkumpul untuk melakukan transaksi jual beli dan membaca syair. Pasar-pasar itu terletak di dekat Mekah yang terpenting diantara mereka adalah Ukaz, Majinnah dan Dzul Majaz. Kabilah Quraisy terkenal sebagai pedagang yang menguasai jalur Niaga Yaman-Hijaz-Syria. Mereka juga mendominasi perdagangan lokal dengan memanfaatkan kehadiran para peziarah ka’bah, terutama pada musim haji.

B. HUKUM ISLAM MASA RASULULLAH
Pada masa Rasulullah berlangsung hanya 22 tahun beberapa bulan. Namun pengaruhnya sangat besar dan penting, karena telah mewariskan beberapa ketetapan hukum dalam Al-Qur’an dan sunah. Juga telah memberikan petunjuk dan pedoman tentang sumber-sumber dan dalil-dalil yang dipergunakan dalam rangka untuk mengetahui suatu hukum dari persoalan yang belum ada ketetapan hukumnya. Dengan demikian periode ini telah mewariskan dasar-dasar pembentukan hukum tasry secara sempurna.
Yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah wahyu-wahyu Tuhan. Di antara wahyu-wahyu itu terdapat ayat-ayat hukum. Menurut penelitian Abdul Wahab Khallaf, seperti telah disebut diatas, Guru Besar Hukum Islam di Universitas Kairo (A.W. Khallaf, 1975: 30) ayat-ayat hukum mengenai soal-soal ibadah jumlahnya140 dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat ibadah ini berkenaan dengan soal shalat, zakat, puasa dan haji. Sedang ayat-ayat hukum mengenai muamalah jumlahnya 228, lebih kurang 3 % dari jumlah seluruh ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an. Klasifikasi 228 ayat hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an itu menurut penelitian Prof. Abdul Wahab Khallaf seperti yang telah disinggung juga pada halaman 79 dan 81 diatas adalah sebagai berikut :
1. Hukum keluarga yang terdiri dari hukum perkawinan dan hukum kewarisan sebanyak 70 ayat :
• Mengenai hukum perkawinan misalnya (hanya diambil sebagai contoh), terdapat dalam Al-Qur’an surah 2 ayat 221, 230, 232, 235; surah 4 ayat 3,4,22,23 dan 25, 129; surah 24 ayat 32, 33; surah 60 ayat 10 dan 11; surah 65 ayat 1 dan 2.
• Mengenai hukum kewarisan terdapat dalam beberapa ayat Qur’an, misalnya dalam surah 2 ayat 180 dan 240, surah 4 ayat 7 sampai dengan 12, 32, 33, dan 176, surah 33 ayat 6.
2. Mengenai hukum perdata lainnya, diantaranya hukum perjanjian (perikatan) terdapat 70 ayat, contohnya dalam surah 2 ayat 280, 282, 283; surah 8 ayat 56 dan 58.
3. Mengenai Hukum Ekonomi Keuangan termasuk hukum dagang terdiri dari 10 ayat antara lain dalam surah 2 ayat 275, 282, 284; surah 3 ayat 130; surah 4 ayat 29; surah 83 ayat 1-3.
4. Hukum Pidana terdiri dari 30 ayat antara lain dalam surah 2 ayat 178 dan 179; surah 4 ayat 92 dan 93; surah 5 ayat 33, 38 dan 39; surah 24 ayat 2; surah 42 ayat 40.
5. Mengenai Hukum Tata Negara ada 10 ayat antara lain dalam surah 3 ayat 110, 159; surah 3 ayat 104; surah 4 ayat 59; surah 42 ayat 38.
6. Mengenai Hukum Internasional terdapat 25 ayat antara lain dalam surah 2 ayat 190 sampai dengan 193; surah 8 ayat 39 dan 41; surah 9 ayat 29 dan 123; surah 22 ayat 39 dan 40.
7. Mengenai Hukum Acara dan Peradilan terdapat 13 ayat antara lain dalam surah 2 ayat 282; surah 4 ayat 65 dan 105; surah 5 ayat 8; surah 38 ayat 26.

Pada periode Rasulullah SAW. Terdiri dari 2 fase yang masing-masing mempunyai corak dan karakteristik tersendiri yaitu:

1. FASE MAKIYAH
Fase Makiyah, ialah sejak Rasulullah SAW. Masih menetap di mekah selama 12 tahun beberapa bulan, sejak beliau dilantik menjadi rasul hingga hijrah ke madinah. Pada fase ini umat Islam keadaannya masih krisolik, masih sedikit kuantitasnya dan kapasitasnya masih lemah, belum bisa membentuk komoditas umat yang mempunyai lembaga pemerintahan yang kuat. Oleh karena itu, perhatian Rasul pada fase ini diarahkan kepada penyebaran dakwah ketauhidan (mengesakan Allah) dan berusaha memalingkan umat manusia dari yang menyembah berhala dan patung, menjaga diri dari gangguan orang-orang yang sengaja menghalangi dakwah beliau, orang-orang yang memberdayakan orang-orang yang beriman kepada ajarannya. Juga Nabi mengajarkan, larangan memakan daging hewan yang disembelih atas nama berhala, melihat undian nasib dengan anak panah, jina dan lain sebagainya. Pada fase ini juga belum ada kesempatan membentuk perundang-undangan, tata pemerintahan, perdagangan, dan lain-lain.
Oleh karena itu, pada surat-surat makiyah Al-Qur’an seperti surat yunus, Al-Ra’ad, Al- Furqan, yasir Al-Hadid, dan lain-lain. Banyak membahas seputar persoalan-persoalan akidah, akhlak, ibadah, dan keteladanan dari proses-proses perjalanan umat yang terdahulu.
Muhammad Hadlori menjelaskan bahwa periode Mekah dapat dilihat dari ayat-ayatnya sebagai berikut:
1. Ayat-ayat makiyyah tidak tidak menjelaskan secara rinci tentang aspek hukum, tetapi terfokus pada tujuan agama, yakni tauhidullah.
2. Penegakan dalil-dalil keberadaan Tuhan.
3. Peringatan akan azab Allah dan sifat-sifat hari Kiamat.
4. Mengajak pada Akhlak mulia sebagaimana Nabi SAW. Diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
5. Berkenaan dengan umat terdahulu yang ditimpa musibah karena tidak taat kepada para nabi sebelumnya.

2. FASE MADANIYAH
Fase madaniyah, ialah sejak Rasulullah SAW. Hijrah dari Mekah ke Madinah hingga wafatnya tahun 11 H / 632 M. Yakni sekitar 10 tahun lamanya. Pada fase madaniyah ini Islam sudah kuat kuantitas umat islam sudah banyak dan telah mempunyai tata pemerintahan tersendiri sehingga media-media dakwah berlangsung dengan aman dan damai. Oleh karena itu ayat-ayat Al-Qur’an yang turun banyak mengandung hukum-hukum a’maliah, baik yang berkenaan dengan hidup individual maupun masyarakat yang dapat dipastikan sangat memerlukan ketentuan hukum lembaga pengadilan.
Seperti hukum-hukum pernikahan, perceraian, warisan, perjanjian, hutang-piutang, kepindahan, dan lain-lain. Yang ada di dalam Al-Qur’an, seperti surat Al-Baqarah, Ali Imran, An Nisa’, Al Maidah, Al Anfal, Attaubah, Annur, al Anjab, surat ini banyak memuat ayat-ayat pembahasan hukum, disamping memuat pula ayat-ayat tentang akidah, akhlak, dan kisah-kisah.

C. PEMEGANG KEKUASAAN TASYRI’ PADA PERIODE RASULULLAH SAW.
Kekuasaan Tasyri’ yakni pembentukan perundang-undangan atau hukum pada periode ini ada ditangan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sebagai rujukan dan acuan pokok sehingga setiap ada permasalahan dikembalikan kepada beliau.
Oleh karena itu, tidak seorangpun dari mereka (para sahabat) berani berfatwa menurut hasil ijtihadnya atau memvonis terhadap suatu perselisihan yang terjadi menurut hasil ijtihadnya sendiri.
Setiap ketetapan hukum yang bersumber dari Rasulullah merupakan Tasyri’ bagi umat Islam dan menjadi undang-undang yang wajib diikuti, baik hukum berasal dari wahyu Allah maupun dari hasil ijtihad beliau sendiri.

D. SUMBER HUKUM PADA PERIODE RASULULLAH SAW.
Pada periode Rasulullah SAW. Hanya ada 2 sumber hukum (perundang-undangan); yaitu wahyu Ilahi (Al-Qur’an) dan ijtihad Rasulullah SAW.
Kalau terjadi suatu masalah yang memerlukan ketetapan hukum, sedang Allah SWT. Tidak menurunkan wahyu tentang hal tersebut. Maka Rasulullah SAW. berijtihad untuk menetapkan hukum suatu masalah, atau menjawab suatu pertanyaan atau memenuhi permintaan fatwa hukum. Hasil ijtihad Rasulullah SAW. ini menjadi hukum atau undang-undang yang wajib diikuti.
Setiap hukum yang ditetapkan pada periode Rasulullah SAW. sumbernya adalah dari wahyu Allah atau ijtihad Rasulullah SAW. Pembentukan hukum itu ditetapkan sesuai kebutuhan pada waktu itu. Rasul bertugas menyampaikan dan menjelaskan sehubungan dengan apa yang telah disyariatkan oleh Al-Qur’an sebagai sumber hukum pertama. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT.

                 

Artinya: “Wahai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu. Dan kalau kamu tidaka laksanakan apa yang telah diperintahkan itu berarti kamu tidak menyamaikan amanatnya.” (QS. Al-Maidah. 5: 67)

Adapun yang berasal dari sumber kedua, yaitu ijtihad Nabi SAW terkadang sebagai menifestasi dari Ilham Ilahi, yakni ketika Nabi SAW berijtihad, Allah mengilhamkan kepadanya tentang ketetapan hukum mengenai persoalan yang ingin diketahui ketetapan hukumnya. Dan terkadang pula ijtihad Nabi SAW. itu sebagai upaya penggalian hukum tersebut yang berdasarkan pada pertimbangan kemaslahatan serta jiwa perundang-undangan itu.
Hukum-hukum yang bersifat ijtihadiyah tersebut sebagai hasil pengilhaman Allah SWT kepadanya. Rasul tidak mempunyai otoritas didalamnya, melainkan hanya pengungkapan saja baginya dalam bentuk sabda atau perbuatan (qauliyah dan fi’liyah).
Sedangkan hukum-hukum yang bersifat ijtihadiyah yang bukan hasil pengilhaman Allah kepadanya, melainkan semata-mata timbul dari hasil daya analisa dan daya nalar pemikiran beliau itu dinamai ahkam Nabawi (hukum-hukum Nabawi). Dan Allah tidak menetapkan hal ini kecuali kalau memang benar adanya.

E. KHITTAH TASYRI’ PADA PERIODE RASULULLAH SAW.
Pada periode Rasulullah SAW. ini merupakan periode pembentukan hukum dan peletakan dasar-dasar perundang-undangan dalam Islam.
Adapun sistem atau metode yang ditempuh oleh Rasulullah SAW. dalam upaya mengembalikan seluruh persoalan hukum kepada sumber-sumber tasyri’ ialah kalau timbul suatu persoalan yang memerlukan ketetapan hukum yang jelas, maka Rasul menunggu turunnya wahyu berupa satu atau beberapa ayat yang memuat tentang ketetapan hukum dari persoalan yang dimaksud. Kalau Nabi SAW. tidak mendapatkan wahyu mengenai hal tersebut, maka beliau berpendapat bahwa Allah SWT. Menyerahkan penetapan hukum atas persoalan itu kepada ijtihad beliau sendiri. Lalu beliau berijtihad berdasar pada tuntutan undang-undang Ilahi, atau menurut jiwa tasyri’, atau atas dasar kemaslahatan atau dengan permusyawaratan para sahabatnya.

Prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar dalam penetapan hukum pada periode pembentukannya ini ada 4:

1. Penetapan hukum secara bertahap.
Adapun hikmah penetapan hukum secara bertahap adalah guna mempermudah mengetahui isi dan meteri undang-undang, dan lebih memantapkan pemahaman terhadap putusan-putusan hukum dengan berpijak pada peristiwa dan situasi yang membutuhkan penetapan hukum itu.

2. Menyedikitkan pembuatan undang-undang.
Hikmah dalam penetapan hukum ini adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia dan mewujutkan kemaslahatan mereka. Maka sewajarnyalah pada setiap periode perundang-undangan itu dibatasi menurut kebutuhan dan kemaslahatan sehingga para generasi masa depan yang mengikuti, perundang-undangan generasi terdahulu tidak merasa kesulitan akibat perundang-undangan itu tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan, maka diantara prinsip-prinsip dasar yang ditetapkan dalam syariat Islam.

3. Memudahkan dan meringankan beban
Hikmahnya adalah untuk memberi kemudahan dan dispensasi (keringanan).

Allah SWT. Berfirman.
        

Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah 2: 185)

4. Pemberlakuan Undang-undang untuk kemaslahatan manusia.
Sebagai bukti dari prinsip ini adalah bahwa Allah SWT. Banyak membuat ketetapan-ketetapan hukum itu disertai sebab-sebab dan tujuan hukum itu. Banyak dalil menunjukkan bahwa hukum-hukum itu ditetapkan dengan tujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Dalam proses penetapan hukum telah ditetapkan standar kaidah:
“Bahwa ada dan tidak adanya hukum itu berputar beserta illat-illat atau sebab-sebabnya”. Maksudnya ada illat ada hukum, hilang illat hilang pula hukum itu.
Dengan demikian, Allah menetapkan sebagian hukum kemudian membatalkan, dan menghapuskannya dengan tujuan adanya kebutuhan yang memerlukan perubahan tersebut seperti, Allah menetapkan wajib menghadap ke Bait al-Maqdis dalam shalat kemudian ketetapan hukum ini diganti dengan perintah menghadap ke Ka’bah (QS. Al-Baqarah 2: 144).
Dengan demikian, penghapusan, penggantian, dan perbahan hukum dalam proses pembentukan perundang-undangan Islam merupakan suatu bukti yang menunjukkan bahwa hukum-hukum Islam diberlakukan untuk kemaslahatan umat manusia.

F. JUMLAH AYAT-AYAT HUKUM
Ayat-ayat hukum yang terdapat dalam koleksi ini jumlahnya tidak banyak, ayat-ayat hukum tentang ibadah dan hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti jihad hanya sekitar 140 ayat, tentang muamalat, ahwal al-syakhsiyah, jinayat, peradilan, dan persaksian hanya sekitar 200 ayat. Hadis-hadis hukum jumlahnya sekitar 4.500 hadis sebagaimana yang dikemukakan Ibnu al-Qayyim al-Jauziy dalam bukunya I’lam al-Muwaqqi’in.

G. GAYA BAHASA AL-QUR’AN DALAM PENETAPAN HUKUM

a. Gaya bahasa perintah.
Gaya bahasa perintah ini menggunakan redaksi:
1. Menyuruh dengan jelas menggunakan kata suruhan, seperti:
 •        

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. (QS. Al-Nahl. 16:90).

 •           ••     

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. (QS. Al-Nisa. 4:58)

Turunnya ayat ini karena Rasulullah SAW saat itu meminta kunci Ka’bah kepada USMan bin Thalhah, kemudian beliau masuk ke dalam Ka’bah, dan saat keluar untuk melakukan tawaf turunlah ayat ini, sehingga Rasulullah mengambil sikap untuk memanggil Usman bin Thalhah dan menyerahkan kembali kunci Ka’bah.

2. Menerangkan bahwa perbuatan itu diwajibkan, seperti:
      
Artinya: Diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; (QS. Al- baqarah 2: 178)

        •  
Maksudnya mengambil balasan yang sama, qisas tidak dilakukan apabila yang membunuh mendapatkan kemaafan dari keluarga yang terbunuh. Namun yang membunuh tetap membayar diat (ganti rugi) yang wajar.

Artinya: Diwajibkan atas kamu berwasiat, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, (QS. Al- Baqarah: 180)

 •      • 
Artinya: Sesungguhnya shalat itu telah diwajibkan atas orang-orang yang beriman yang telah ditentukan waktunya. (QS. Al-Nisa: 103)

Surat An-Nisa ayat 103 dengan tegas menerangkan tentang cara melakukan shalat khauf (shalat dikala takut/ khawatir terhadap serangan musuh).

3. Menerangkan bahwa perbuatan itu diwajibkan atas manusia pada umumnya atau atas golongan tertentu, seperti:
   ••       
Artinya: Mengerjakan ibadah adalah kewajiban manusia terhadap Allah; Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran 3 : 97).

Maksudnya adalah ibadah haji wajib dilaksanakan bagi orang yang mampu melaksanakannya seperti mempunyai dana untuk berangkat ke baitullah dan dalam keadaan sehat.

      
Artinya: Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf (QS. Al-Baqarah 2 : 223)

Maksudnya seorang ayah (kepala rumah tangga) harus menafkahi keluarganya dengan cara yang halal dan baik bukan dengan harta yang haram atau dengan cara yang melanggar aturan Islam.

       
Artinya: Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. A-Baqarah 2:241)

Seorang suami yang menceraikan istrinya harus memberikan mut’ah. Mut’ah merupakan pemberian mantan suami kepada istri yang dijatuhi talak baik berupa uang, barang atau yang lain.

4. Membebankan perbuatan yang dituntut atas orang yang dituntut dari padanya, seperti:
      
Artinya: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (QS. Al-Baqarah 2: 228).

Jika seorang suami menceraikan isteri yang telah digauli atau berkumpul dengannya, maka si isteri harus beriddah selama tiga kali haid secara sempurna apabila termasuk wanita yang masih mengalami haid dan tidak hamil. Tiga kali quru’ artinya tiga kali haid. Tetapi jika si isteri dalam keadaan hamil, maka iddahnya ialah sampai melahirkan, baik masa iddahnya itu lama maupun sebentar. Jika si isteri termasuk wanita yang tidak haid, karena masih kecil dan belum mengalami haid, atau sudah menopause, atau karena pernah operasi pada rahimnya, atau sebab-sebab lain sehingga tidak diharapkan dapat haid kembali, maka iddahnya adalah tiga bulan.

5. Menuntut dengan menggunakan fi’il amr atau fi’il mudhari.yang disertai dengan lam amr,seperti:
        
Artinya: Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.(QS. Al-Baqarah 2: 238)

        
Artinya: Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).(QS. Al-Hajj 22:29)

Dalam melakukan tawaf, harus dalam keadaan suci dalam arti badan yaitu dari hadats dan najis dan hati yaitu dari penyakit hati (sirik, dengki, sombong, ria, dan sebagainnya).

6. Menggunakan kata fardhu, seperti :
            
Artinya: Sesungguhnya kami telah mengetahui apa yang kami fardhukan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamda sahaya yang mereka miliki. (QS. Al- Ahzab 33:50).

7. Menyebutkan perbuatan sebagai (jawab) bagi syarat, cara ini tidak umum, seperti:
            
Artinya: Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelih) korban yang mudah didapat.(QS. Albaqarah 2 : 19)

                  
Artinya: Jika ada di antara kamu yang sakit, atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban. (QS.Albaqarah 2 : 196)

8. Menyebutkan perbuatan itu disertai dengan lafal khair (kebaikan), atau yang lebih baik.
9. Menyebutkan perbuatan disertai dengan janji baik.
10. Menyifati perbuatan bahwa perbuatan itu baik atau dihubungkan dengan kebaikan.

b. Gaya bahasa larangan
Gaya bahasa ini menggunakan redaksi:
1. Menggunakan dengan jelas kalimat larangan.
2. Menggunakan kata mengharamkan.
3. Menerangkan ketidakhalalan perbuatan itu.
4. Menggunakan bentuk larangan, yaitu menggunakan fi’il mudhari yang didahului dengan la nahyi atau fi’il amr yang menunjukan atas tuntutan mencegah.
5. Meniadakan kebaikan dari suatu perbuatan.
6. Meniadakan suatu perbuatan.
7. Menyebutkan perbuatan yang disertai dengan keterangan berhak ditimpakan dosa atas yang mengerjakannya.
8. Menyebutkan perbuatan disertai dengan ancaman.
9. Menyifati sesuatu perbuatan dengan buruk.

c. Gaya bahasa yang memberikan alternatif (pilihan) untuk mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan.

1. Menyadarkan kata halal kepada suatu perbuatan atau dihubungkan kepada suatu perbuatan.
2. Mempergunakan kalimat yang meniadakan dosa.
3. Mempergunakan kalimat yang meniadakan kesalahan.

Adapun hikmahnya dalam pensyariatan undang-undang yang dibarengi dengan penjelasan illat dan rahasia hukum tersebut adalah untuk membuka wawasan pemikiran bahwa hukum-hukum yang bersifat tasyri’iyah itu tidak termasuk bidang ta’ab budiyah (peribadatan), akan tetapi justru mengandung illat kemaslahatan umat manusia dan disana terbuka pintu ijtihad dalam pengaturan dalam segala sesuatu yang bisa mewujudkan kemaslahatan atau menolak bahaya (mafsadat).

Hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an itu secara globalnya terbagi atas tiga bagian:
1. Hukum-hukum I’tiqadiyah, yakni hukum-hukum yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kiamat.
2. Hukum-hukum akhlakiyah, yakni hukum-hukum yang berkaitan dengan dengan sifat-sifat yang terpujiyang mesti diperankan oleh setiap manusia. Dan sifat-sifat yang tercela yang harus dijauhi dan dihindari oleh setiap manusia.
3. Hukum amaliyah (aktual) yakni hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan orang-orang mukhallaf, seperti ibadah, muamalah, jinayat, persengketaan, perjanjian dan transaksi.


BAB III
PENUTUP

Bangsa Arab adalah penduduk asli jazirah Arab. Semenanjung yang terletak di bagian barat daya Asia ini. Sebagian besar permukaannya terdiri dari padang pasir. Secara iklim di jazirah Arab amat panas, bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi ini.
Hukum Islam Masa Rasulullah berlangsung hanya 22 tahun beberapa bulan. Namun pengaruhnya sangat besar dan penting, karena telah mewariskan beberapa ketetapan hukum dalam Al-Qur’an dan sunah. Juga telah memberikan petunjuk dan pedoman tentang sumber-sumber dan dalil-dalil yang dipergunakan dalam rangka untuk mengetahui suatu hukum dari persoalan yang belum ada ketetapan hukumnya. Dengan demikian periode ini telah mewariskan dasar-dasar pembentukan hukum tasyri’ secara sempurna.
Pada periode Rasulullah SAW. Terdiri dari 2 fase yang masing-masing mempunyai corak dan karakteristik tersendiri yaitu: fase Makiyyah dan Fase Madaniyah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahab Khallaf. Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2002.

Dedi Supriyadi. Sejarah Hukum Islam,Bandung, Pustaka Setia, 2010.

Muhammad Daud Ali, SH. Hukum Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2007.

Wahhab, Khallaf Abdul. Ikhtisar Sejarah Hukum Islam, Cet. Pertama, Yogyakarta: Dua Dimensi, 1985.

kartun Islami

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Ajaran Islam, yang sumber ajarannya berasal dari Al-qur’an dan sunnah Nabi, diyakini oleh umat Islam dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang diproduksi oleh perputaran zaman. Pada dasarnya Islam itu satu, tetapi pada kenyataannya bahwa tampilan Islam itu beragam, karena lokasi penampilannya mempunyai budaya yang beragam, perubahan jaman telah membawa budaya dan teknologi yang berbeda-beda. Misalnya, ada komunitas yang senang menampilkan Islam dengan pemerintahan kerajaan, ada pula yang senang pemerintahan republik. Bahkan, ada yang ingin kembali ke pemerintah bentuk khilafah Ada yang terikat dengan teks Al-Qur’an dan Hadis dalam memahami ajaran Islam.

Tidak bisa dihindari lagi, semua merasa pemikirannyalah yang paling benar antara sesama Muslim yang terjadi dimana-mana dalam rangka menampilkan Islam. Tampaknya, pemahaman itu utuh, pesan ketuhanan dapat ditangkap, fanatik buta dapat diredam, sejarah tampilan ajaran Islam dari waktu ke waktu perlu dicermati. Dengan cara ini proses terselengaranya syariat Islam di masa Nabi dan generasai-generasi berikutnya dapat dipahami. Alasan kebijakan para tokoh Islam untuk maksud ini pun dapat dimengerti. Dalam era kontemporer ini kemudian teraktualisasi perdebatan kalam dikalangan tokoh modernis.

Di antara tokoh yang ada di era kontemporer ini adalah Ismail Al-Faruqi, Hasan Hanafi, H.M. Rasyidi dan Harun Nasution. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang ilmu kalam masa kini tentang pemikiran tokoh yang telah disebutkan di atas.

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

Ilmu Kalam Masa Kini: Ismail Al-Faruqi, Hasan Hanafi,

Rasyidi dan Harun Nasution

 

 

  1. A.      Ismail Al-Faruqi
  2. 1.        Riwayat Singkat Ismail al Faruqi

Ismail Raji al-Faruqi lahir di Jaffa, Palestina pada tanggal 1 Januari 1921. Pendidikan dasarnya dimulai dari madrasah, dan pendidikan menengahnya di Colleges des Freres, dengan bahasa pengantar Perancis. Kemudian pada tahun 1941 lulus dari American University of Beirut. Ismail lalu bekerja untuk pemerintah Inggris di Palestina. Pada tahun 1945, dia dipilih sebagai Gubernur Galilea. Tapi, setelah Israel mencaplok Palestina, ia pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1949. Di Amerika, ia melanjutkan pendidikan Master dalam bidang filsafat di University of Indiana dan University of Harvard. Dia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil gelar doktor filsafat di University of Indiana dan di Al-Azhar University pada tahun 1952.[1]

Dia kemudian mengajar beberapa universitas diseluruh dunia diantaranya universitas di Kanada, Pakistan dan Amerika Serikat. Pada tahun 1968, dia menjadi guru besar Studi Islam di Temple University, Amerika Serikat. Sebagai anak Palestina, al-Faruqi mengecam keras apa yang telah dilakukan oleh Zionis Israel yang menjadi dalang pencaplokan Palestina. Namun, ia dengan tegas membedakan Zionisme dan Yahudi. Dalam buku Islam and Zionism, ia berkata bahwa Islam adalah agama yang menganggap agama Yahudi sebagai agama Tuhan, yang ditentang Islam adalah politik Zionisme.

Pembunuhan atas dirinya dan istrinya diduga karena kritiknya yang keras terhadap kaum Zionis Yahudi. Kematian Ismail Raji al-Faruqi meninggal dunia karena dibunuh pada tanggal 27 Mei 1986 di rumahnya.[2]

 

 

  1. 2.        Pemikiran Kalam Ismail Al-Faruqi

Pemikiran kalam Ismail al Faruqi tertuang dalam karyanya yang berjudul Tahwid: Its Implications for Thought and Life. Dalam karyanya ini beliau ini mengungkapkan bahwa:

  1. Tauhid sebagai inti pengalaman agama

Inti pengalaman agama, kata Al-Faruqi adalah Tuhan. Kalimat syahadat menempati posisi sentral dalam setiap kedudukan, tindakan, dan pemikiran setiap muslim. Kehadiran Tuhan mengisi kesadaran Muslim dalam setiap waktu. Bagi kaum Muslimin, Tuhan benar-benar merupakan obsesi yang agung.[3]

 

  1. Tauhid sebagai pandangan dunia

Tauhid merupakan pandangan umum tentang realitas, kebenaran, dunia, ruang dan waktu, sejarah manusia, dan takdir.

 

  1. Tauhid sebagai intisari Islam

Esensi peradaban Islam adalah Islam sendiri. Tidak ada satu perintah pun dalam Islam yang dapat dilepaskan dari tauhid. Tanpa tauhid, Islam tidak aka nada. Tanpa yauhid, bukan hanya sunnah nabi yang patut diragukan, bahkan ptanata kenabian pun menjadi hilang.[4]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip sejarah

Tauhid menempatkan manusia pada suatu etika berbuat atau bertindak, yaitu etika ketika keberhargaan manusia sebagai pelaku moral diukur dari tingkat keberhasilan yang dicapainya dalam mengisi aliran ruang dan waktu.[5]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip pengetahuan

Berbeda denga iman Kristen, iman Islam adalah kebenaran yang diberikan kepada pikiran, bukan kepada perasaan manusia yang mudah dipercayai begitu saja. Kebenaran, atau proposisi iman bukanlah misteri, hal yang dipahami dan tidak dapat diketahui dan tidak masuk akal, melainkan bersifat kritis dan rasional.[6]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip metafisika

Dalam Islam, alam adalah ciptaan dan anugerah. Sebagai ciptaan, ia bersifat teleologis, sempurna, dan teratur. Sebagai anugerah, ia merupakan kebaikan yang tak mengandung dosa yang disediakan untuk manusia. Tujuannya agar manusia melakukan kebaikan dan mencapai kebahagiaan. Tiga penilaian ini, keteraturan, kebertujuan, dan kebaikan, menjadi cirri dan meringkas pandangan umat Islam tentang alam[7]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip etika

Tauhid menegaskan bahwa Tuhan telah memberi amanat-Nya kepada manusia, suatu amanat yang tidak mampu dipikul oleh langit dan bumi. Amanat atau kepercayaan Ilahi tersebut berupa pemenuhan unsur etika dari kehendak Ilahi, yang sifatnya mensyaratkan bahwa ia harus direalisasikan dengan kemerdekaan, dan manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu melaksanakannya. Dalam Islam, etika tidak dapat dipisahkan dari agama dan bahkan dibangun di atasnya.[8]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip tata sosial

Dalam Islam tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Masyarakat Islam harus mengembangkan dirinya untuk mencakup seluruh umat manusia. Jika tidak, ia akan kehilangan klaim keislamannya.[9]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip ummah

Dalam menyoroti tentang tauhid sebagai prinsip ummat, al Faruqi membaginya kedalam tiga identitas, yakni: pertama, menenentang etnisentrisme yakni tata sosial Islam adalah universal mencakup seluruh ummat manusia tanpa kecuali dan tidak hanya untuk segelitir suku tertentu. Kedua, universalisme yakni Islam meliputi seluruh ummat manusia yang cita-cita tersebut diungkapkan dalam ummat dunia. Ketiga totalisme, yakni Islam relevan dengan setiap bidang kegiuatan hidup manusia dalam artian Islam tidak hanya menyangkut aktivitas mnusia dan tujuan di masa mereka saja tetapi menyangkut aktivitas manusia disetiap masa dan tempat.[10]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip keluarga

Al-Faruqi memandang bahwa selama tetap melestarikan identitas mereka dari gerogotan kumunisme dan idiologi-idiologi Barat, umat  Islam akan menjadi masyarakat yang selamat dan tetap menempati kedudukan yang terhormat. Keluarga Islam memiliki peluang lebih besar tetap lestari sebab ditopang oleh hukum Islam dan dideterminisi oleh hubungan erat dengan tauhid.[11]

 

  1. Tauhid sebagai tata politik

Al-Faruqi mengaitkan tata politik dengan pemerintahan. Kekhalifahan didefenisikan sebagai kesepakatan tiga dimensi, yaitu: kesepakatan wawasan (ijma’ ar-ru’yah), kehendak (ijma’ al-iradah), dan tindakan (ijma’ al-amal).[12]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip tata ekonomi

Al-Faruqi melihat implikasi Islam untuk tata ekonomi ada dua prinsip, yaitu: pertama, tak ada seorang atau kelompok pun yang dapat memeras yang lain. Kedua,  tak satu kelompok pun boleh mengasingkan atau memisahkan diri dari umat manusia lainnya dengan tujuan untuk mebatasi kondisi ekonomi mereka pada diri mereka sendiri.[13]

 

  1. Tauhid sebagai prinsip estetika

Dalam hal kesenian, beliau tidak menentang kretaivitas manusia, tidak juga menentang kenikmatan dan keindahan. Menurutnya Islam menganggap bahwa keindahan mutlak hanya ada dalam diri Tuhan dan dalam kehendak-Nya yang diwahyukan dalam firman-firman-Nya.[14]

 

  1. B.       Hasan Hanafi
  2. 1.        Riwayat Singkat Hasan Hanafi

Hasan Hanafi dilahirkan pada 13 Februari tahun 1935, di Kairo. Pendidikannya diawali pada tahun 1948 dengan menamatkan pendidikan tingkat dasar, dan melanjutkan studinya di Madrasah Tsanawiyah Khalill Agha, Kairo yang diselesaikannya selama empat tahun. Hasan Hanafi adalah pengikut Ikhwanul Muslimin ketika dia aktif kuliah di Universitas Kairo. Hanafi tertarik juga untuk mempelajari pemikiran Sayyid Qutb tentang keadilan sosial dalam Islam. Ia berkonsentrasi untuk mendalami pemikiran agama, revolusi, dan perubahan sosial.[15]

Dari sekian banyak tulisan dan karyanya yaitu: Kiri Islam (Al-Yasar Al-Islami) merupakan salah satu puncak sublimasi pemikirannya semenjak revolusi 1952. Kiri Islam, meskipun baru memuat tema-tema pokok dari proyek besar Hanafi, karya ini telah memformulasikan satu kecenderungan pemikiran yang ideal tentang bagaimana seharusnya sumbangan agama bagi kesejahteraan umat.

 

  1. 2.        Pemikiran Kalam Hasan Hanafi
  2. a.        Kritik terhadap teologi Tradisional

Dalam gagasannya tentang rekobstruksi teologi tradisiobal, Hanafi menegaskan perlunya mengubah orientasi perangkat konseptual kepercayaan sesuai dengan konteks politik yang terjadi. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa teologi tradisonal lahir dalam konteks sejarah ketika inti keislaman yang bertujuan untuk memelihara kemurniannya. Hal ini berbeda dengan kenyataan sekarang bahwa Islam mengalami kekalahan akibat kolonialisasi sehingga perubahan kerangka konseptal lama pada masa-masa permulaan yang berasal dari kebudayaan klasik menuju kerangka konseptual yang baru yang berasal dari kebudayaan modern harus dilakukan.[16]

Hanafi memandang bahwa teologi bukanlah pemikiran murni yang hadir dalam kehampaan kesejarahan, melainkan merefleksikan konflik sosial politik. Sehingga kritik teologi memang merupakan tindakan yang sah dan dibenarkan karena sebagai produk pemikiran manusia yang terbuka untuk dikritik. Hal ini sesuai dengan pendefenisian beliaun tentang definisi teologi itu sendiri. Menurutnya teologi bukanlah ilmu tentang Tuhan, karena Tuhan tidak tunduk pada ilmu. Tuhan mengungkaplan diri dalam Sabda-Nya yang berupa wahyu.[17]

Menurut Hasan Hanafi, teologi tradisional tidak dapat menjadi sebuah pandangan yang benar-benar hidup dan memberi motivasi tindakan dalam kehidupan kongkret umat manusia hal ini disebabkan oleh sikap para penyusun teologi yang tidak mengaitkannya dengan kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia. Sehingga menimbulkan keterpercahan antara keimanan teoritik dengan amal praktiknya di kalangan umat.

 

  1. b.        Rekontruksi Teologi

Sebagai konsekuensi atas pemikirannya yang menyatakan bahwa para ulama tradisional telah gagal dalam menyusun teologi yang modern, maka Hanafi mengajukan saran rekontruksi teologi. Adapaun langkah untuk melakukan rekonstruksi teologi sekurang-kurangnya dilatarbelakangi oleh tiga hal yaitu:

1)        Kebutuhan akan adanya sebuah ideologi yang jelas di tengah pertarungan globalisasi ideologi.

2)        Pentingnya teologi baru ini bukan semata pada sisi teoritisnya tetapi juga terletak pada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan ideologi gerakan dalam sejarah.

3)        Keperingan teologi yang bersifat praktis yang secara nyata diwujudkan dalam realisasi tauhid dalam dunia Islam.[18]

 

  1. C.      H.M. Rasyidi
  2. 1.        Riwayat Hidup H. M Rasyidi

H. Mohamad Rasjidi (Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915 – 30 Januari 2001) adalah mantan Menteri Agama Indonesia pada Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II.Fakultas Filsafat, Universitas Kairo, Mesir (1938) Universitas Sorbonne, Paris (Doktor, 1956) Guru pada Islamitische Middelbaare School (Pesantren Luhur), Surakarta (1939-1941) Guru Besar Fakultas Hukum UI Direktur kantor Rabitah Alam Islami, Jakarta Karya Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Bulan Bintang, 1977, Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional, Media Dakwah, 1979. Kebebasan Beragama, Media Dakwah, 1979. Janji-janji Islam, terjemahan dari Roger Garandy, Bulan Bintang, 1982.[19]

 

  1. 2.        Pemikiran Kalam H.M Rasyidi

Pemikiran kalam beliau banyak yang berbeda dari beberapa tokoh seangkatannya. Hal ini dilihat dari keritikan beliau terhadap Harun Nasution, dan Nurcholis Majid. Secara garis besar pemikiran kalamnya dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Tentang perbedaan ilmu kalam dan teologi.

Rasyidi menolak pandangan Harun Nasution yang menyamakan pengertian ilmu kalam dan teologi. Untuk itu Rasyidi berkata, “…Ada kesan bahwa ilmu kalam adalah teologi Islam dan teologi adalah ilmu kalam Kristen.”[20] Selanjutnya Rasyidi menelurusi sejarah kemunculan teologi. Menurutnya, orang Barat memakai istilah teologi untuk menunjukkan tauhid atau kalam karena mereka tak memiliki istilah lain. Teologi terdiri dari dua perkataa, yaitu teo (theos) artinya Tuhan, dan logos, artinya ilmu. Jadi teologi berarti ilmu ketuhanan.adapun sebab timbulnya teologi dalam Kristen adalah ketuhananNabi Isa, sebagai salah satu dari tri-tunggal atau trinitas. Namun kata teologi kemudian mengandung beberapa aspek agama Kristen, yang di luar kepercayaan (yang benar), sehingga teologi dalam Kristen tidak sama dengan tauhid atau ilmu kalam.[21]

 

  1. Tema-tema ilmu kalam

Salah satu tema ilmu kalam Harun Nasution yang dikritik oleh Rasyidi adalah deskripsi aliran-aliran kalam yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi umat Islam sekarang, khususnya di Indonesia. Untuk itu, Rasyidi berpendapat bahwa menonjolnya perbedaan pendapat antara Asy’ariyah dan Mu’tazilah, sebagaimana dilakukan Harun Nasution, akan melemahkan iman para mahasiswa. Rasyidi mengakui bahwa soal-soal yang pernah diperbincangkan pada dua belas abad yang lalu, masih ada yang relevan untuk masa sekarang, tetapi ada pula yang sudah tidak relevan. Pada waktu sekarang, demikian rasyidi menguraikan, yang masih dirasakanlah oleh umat Islam pada umumnya adalah keberadaan Syi’ah.[22]

 

  1. Hakikat iman

Bagian ini merupakan kritikan Rasyidi terhadap deskripsi iman yang diberikan Nurcholis Madjid, yakni “percaya dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan. Dan sikap apresiatif kepada Tuhan merupakan inti pengalaman keagamaan seseorang. Sikap ini disebut takwa. Takwa diperkuat dengan kontak yang kontinu dengan Tuhan. Apresiasi ketuhanan menumbuhkan kesadaran ketuhanan yang menyeluruh, sehingga menumbuhkan keadaan bersatunya hamba dengan Tuhan.”[23] Menanggapi pernyataan di atas Rasyidi mengatakan bahwa iman bukan sekedar menuju bersatunya manusia dengan Tuhan, tetapi dapat dilihat dalam dimensi konsekuensial atau hubungan dengan manusia dengan manusia, yakni hidup dalam masyarakat. Bersatunya seseorang dengan Tuhan tidak merupakan aspek yang mudah dicapai, mungkin hanya seseorang saja dari sejuta orang. Jadi, yang terpenting dari aspek penyatuan itu adalah kepercayaan, ibadah dan kemasyarakatan.[24]

 

  1. D.      Harun Nasution
  2. 1.        Riwayat Hidup Harun Nasution

Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada tahun 1919. Kemudian bersekolah di HIS (Hollandsche Indlansche School) dan lulus pada tahun 1934. Pada tahun 1937, lulus dari MIK (Moderne Islamietische Kweekschool). Ia melanjutkan pendidikan di Ahliyah Universitas Al-Azhar pada tahun 1940. Dan pada tahun 1952, meraih gelar sarjana muda di American University of Cairo.Harun Nasution menjadi pegawai Deplu RI di Brussels dan Kairo pada tahun 1953-1960. Dia meraih gelar doktor di Universitas McGill di Kanada pada tahun 1968. Selanjutnya, pada 1969 menjadi rektor di IAIN Syarif Hidayatullah dan UNJ. Pada tahun 1973, menjabat sebagai rektor IAIN Syarif Hidayatullah.Hasan Nasution wafat pada tanggal 18 September 1998 di Jakarta.Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang memuji aliran Muktazilah (rasionalis), yang berdasar pada peran akal dalam kehidupan beragama. Dalam ceramahnya, Harun selalu menekankan agar kaum Muslim Indonesia berpikir secara rasional. [25]

Harun Nasution juga dikenal sebagai tokoh yang berpikiran terbuka. Ketika ramai dibicarakan tentang hubungan antar agama pada tahun 1975, Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang berpikiran luwes lalu mengusulkan pembentukan wadah musyawarah antar agama, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa saling curiga.[26]

 

  1. 2.        Pemikiran Kalam Harun Nasution
  2. Peranan akal

Bukanlah secara kebetulan Harun Nasution meilih problematika akal dalam sistem teologi Muhammad Abduh sebagai bahan kajian disertasinya di Universitas McGill, Montreal, Kanada. Besar kecilnya peranan akal dalam sistem teologi suatu aliran sangat menetukan dinamis atau tidaknya pemahaman seseorang tentang ajaran Islam. Berkenaan dengan akal ini, Harun Nasution menulis demikian, “akal melambangkan kekuatan manusia. Karena akallah, manusia mempunyai kesanggupannya untuk mengalahkan makhluk lain. Bertambah lemahnya kekuatan akal manusia, bertambah rendah pula kesanggupannya menghadapi kekuatan-kekuatan lain tersebut.”[27]

 

  1. Pembaharuan teologi

Harun Nasution berasumsi bahwa keterbelakangan dan kemunduran umat Islam Indonesia atau dimana saja adalah disebabkan “ada yang salah” dalam teologi mereka. Pandangan ini serupa dengan pandangan modernis lainnya yang memandang perlu perlu untuk kembali kepada teologi Islam yang sejati.

 

  1. Hubungan akal dan wahyu

Dalam hal hubungan akal dan wahyu, sebagaimana pemikiran ulama Muktazillah terdahulu. Harun Nasution berpendapat bahwa akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al Qur’an. Oranga yang beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu sudah mengandung segala-galanya. Wahyu bahkan tidak menjelaskan semua permasalahan keagamaan. Dengan demikian kita tidaklah heran kalau Sirajudin Abbas berpendapat bahwa Kaum Muktazillah banyak mempergunakan akal dan lebih mengutamakan akal bukan mengutamakan Al Qur’an dan Hadist.

Hubungan wahyu dan akal memang menimbulkan pertanyaan, tetapi keduanya tidak bertentangan. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al-Qur’an. Orang yang beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu sudah mengandung segala-galanya. Wahyu bahkan tidak menjelaskan semua permasalahan keagamaan.[28]

Dalam pemikiran Islam, baik di bidang filsafat dan ilmu kalam, apalagi di bidang ilmu fiqih, akal tidak pernah membatalkan wahyu. Akal tetap tunduk pada teks wahyu. Teks wahyu tetap dianggap benar. Akal dipakai untuk memahami teks wahyu dan tidak untuk menetang wahyu.

 

BAB III

PENUTUP

 

Pemikiran Kalam Ismail Al-Faruqi

Inti pengalaman agama adalah Tuhan. Kalimat syahadat menempati posisi sentral dalam setiap kedudukan, tindakan, dan pemikiran setiap muslim. Tauhid merupakan pandangan umum tentang realitas, kebenaran, dunia, ruang, waktu,sejarah manusia dan takdir. Tauhid ummah terdiri dari tiga identitas yaitu Etnosentrisme, Universalisme, Totalisme dan Kemerdekaan. Tauhid tidak menentang kreatifitas seni, kenikmatan, dan keindahan.Islam menganggap bahwa keindahan mutlak hanya ada dalam diri Tuhan dan dalam kehendak-Nya yang diwahyukan dalam firman-firman-Nya.

Pemikiran Kalam Hasan Hanafi

Hasan mengkritik teologi tradisional tidak dapat menjadi sebuah pandangan yang benar-benar hidup dan memberi motivasi tindakan dalam kehidupan kongkret umat manusia hal ini disebabkan oleh sikap para penyusun teologi yang tidak mengaitkannya dengan kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia. Sehingga menimbulkan keterpercahan antara keimanan teoritik dengan amal praktiknya dikalangan umat.

 Pemikiran H.M.Rasyidi

Rasyidi berpandangan bahwa ilmu kalam sama sekali berbeda dengan teologi. Beliau tidak sependapat dengan Harun yang sangat mengagungkan akal yang dapat mengetahui baik dan buruk dilihat dari perkembangan zaman.Tentang iman, Rasyidi mengatakan bahwa iman bukan sekedar bersatunya manusia dengan Tuhan, tetapi dapat dilihat dalam dimensi konsekuensial atau hubungan manusia dengan manusia,yakni hidup dalam masyarakat. Jadi, yang lebih penting dari aspek penyatuan itu adalah kepercayaan, ibadah, dan kemasyarakatan.

Pemikran Harun Nasution

Besar kecilnya peranan akal dalam sistem teologi suatu aliran sangat menentukan dinamis atau tidaknya pemahaman seseorang tentang ajaran Islam. Harun memandang perlu pembaharuan teologi untuk kembali kepada teologi Islam sejati.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

A.H. Ridwan, Reformasi Intelektual Islam, Yogyakarta: Ittaqa Press, 1998.

 

E. Kusnadiningrat, Teologi dan Pembebasan: Gagasan Islam Kiri Hasan Hanafi, Jakarta: Logos, 1999.

 

Harun Nasutio, Teologi Islam: aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1983.

 

http://rumahsugi.blogspot.com/2007/11/ilmu-kalam-masa-kini.html Diakses Tanggal 08 Mei 2012, Pukul 08.30.

 

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Lois_Lamya_alFaruqi&ei=pHmoT_nSPIXMrQen6cmZBA&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=1&ved=0CCIQ7gEwAA&prev=/search%3Fq%3Dlamya%2Balfaruqi%26hl%3Did%26client%3Dfirefoxa%26hs%3DlFv%26rls%3Dorg.mozilla:enUS:official%26prmd%3Dimvnso Diakses Tanggal 8 Mei 2012, Pukul 08:20.

 

Lamya Al-Faruqi, Allah, Masa Depan Kaum Wanita, Terj. Masyhur Abadi, (Surabaya: Al-Fikr, 1991

 

M. Rasjidi, Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution, Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”, Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

 

H.M. Rasjidi, Koreksi Terhadap Dr. Nurcholish Madjid tentang Sekularisasi, Jakarta: Bulang Bintang, 1977.

 

Zaim Uchrowi, Menyeru Pemikiran Rasional Mu’thazilah dalam Aqib Suminto (ketua Panitia), Refleksi Pembaharuan Pmikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Jakarta, 1989.

 


[1] Lamya Al-Faruqi, Allah, Masa Depan Kaum Wanita, Terj. Masyhur Abadi, (Surabaya: Al-Fikr, 1991), hlm. Vii-x.

[3] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid, Terj. Rahmani Astuti, Pustaka, 1988, hlm. 1.

[4] Ibid, hlm 16, 17, 18.

[5] Ibid, hlm. 35, 37.

[6]Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid…, hlm. 42.

[7] Ibid, hlm. 51.

[8] Ibid, hlm. 61, 64.

[9] Ibid, hlm. 102.

[10] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid…, hlm. 109-112.

[11] Ibid, hlm. 137.

[12] Ibid, hlm. 149-154.

[13] Ibid, hlm. 176.

[14] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid…, hlm. 207.

[15] A.H. Ridwan, Reformasi Intelektual Islam, (Yogyakarta: Ittaqa Press, 1998), hlm. 40.

[16] E. Kusnadiningrat, Teologi dan Pembebasan: Gagasan Islam Kiri Hasan Hanafi, (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 63-64.

[17] Ridwan, Op.Cit, hlm.

[18] Ibid, hlm. 50.

[19] http://rumahsugi.blogspot.com/2007/11/ilmu-kalam-masa-kini.html Diakses Tanggal 08 Mei 2012, Pukul 08.30.

[20] H.M. Rasjidi, Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution, Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”, Jakarta: Bulan Bintang, 1977).

[21]H.M. Rasjidi, Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution,…, hlm. 33-34.

[22] Ibid, hlm. 104.

[23] H.M. Rasjidi, Koreksi Terhadap Dr. Nurcholish Madjid tentang Sekularisasi, Jakarta: Bulang Bintang, 1977), hlm. 61.

[24] Ibid, hlm. 63.

[25] Zaim Uchrowi, Menyeru Pemikiran Rasional Mu’thazilah dalam Aqib Suminto (ketua Panitia), Refleksi Pembaharuan Pmikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Jakarta, 1989, hlm. 3.  

[26] http://rumahsugi.blogspot.com/2007/11/ilmu-kalam-masa-kini.html Diakses Tanggal 08 Mei 2012, Pukul 08.30.

[27] Harun Nasutio, Teologi Islam: aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1983), hlm. 56.

[28] Ibid, hlm. 150.

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Ki Hajar Dewantara, sebagaimana dimuat dalam tulisan Dwi Siswoyo, dkk. (2007:20), menjelaskan bahwa pendidikan adalah menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Selanjutnya menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Secara singkat, maka pendidikan dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha pendidik untuk menyalurkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat kepada peserta didik.

Eksistensi pendidikan tidak dapat terlepas dari adanya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia salah satunya adalah Sekolah Dasar (SD). Pendidikan seni tari dan drama adalah salah satu materi yang termuat dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Sebagai seorang calon pendidik maka diperlukan pengetahuan tentang seni dan drama untuk anak usia SD. Keterampilan seorang guru dalam memahami karakteristik, fase,dan perkembangan tugas anak usia SD sangat diperlukan dalam menyampaikan materi ini.

Perlu dipahami bahwa karakteristik siswa SD berbeda-beda sesuai dengan tingkat perkembangannya. Perbedaan karakteristik siswa SD tersebut secara global dibedakan antara siswa SD kelas satu dan dua, kelas tiga dan empat, serta kelas lima dan enam. Kelompok tersebut mempunyai perbedaan yang tampak sekali, yang dapat diamati pada kerakteristik gerak dan karakteristik tarinya.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  1. A.      Karateristik dan Fase Perkembangan Anak

Anak usia SD (6-12 tahun) disebut sebagai masa anak-anak (midle childhood). Pada masa inilah disebut sebagai usia matang bagi anak-anak untuk belajar. Hal ini dikarenakan anak-anak menginginkan untuk menguasai kecakapan-kecakapan baru yang diberikan oleh guru di sekolah. Simanjuntak dan Pasaribu (1983: 68) menegaskan bahwa salah satu tanda permulaan periode bersekolah ini ialah sikap anak terhadap keluarga tidak lagi egosentris melainkan objektif dan empiris terhadap dunia luar. Jadi dapat disimpulkan bahwa telah ada sikap intelektualitas sehingga masa ini disebut periode intelektual. Hal ini sejalan dengan pendapat Nasution (1995: 44) bahwa masa usia sekolah ini sering disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian sekolah. Pada masa ini secara relatif anak-anak mudah untuk dididik daripada masa sebelumnya dan sesudahnya.

Memahami tentang murid berarti memahami  gejala atau kondisi yang dimiliki. Untuk mengetahui karakteristik gerak siswa SD, terlebih dahulu perlu untuk memahami tingkat perkembangan siswa SD menurut tingkat usianya.

Secara umum sifat siswa SD antara lain:

  1. Mempunyai sifat patuh terhadap aturan.
  2. Kecenderungan untuk memuji diri sendiri.
  3. Suka membandingkan diri dengan orang lain.
  4. Jika tidak dapat menyelesaikan tugas, maka tugas tersebut dianggap tidak penting.
  5. Realistis, dan rasa ingin tahu yang besar.
  6. Kecenderungan melakukan kegiatan kehidupan yang bersifat praktis dan nyata (Depdikbud, 1978).

 

 

 

Pada jenjang pendidikan SD dapat diperinci menjadi dua fase, yaitu: Masa kelas rendah SD, kira-kira umur 6 atau 7 sampai umur 9 atau 10. Secara khusus karakteristik siswa SD kelas rendah (kelas 1, kelas 2, dan kelas 3) adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik umum
  2. Waktu reaksinya lambat
  3. Koordinasi otot tidak sempurna
  4. Suka berkelahi
  5. Gemar bergerak, bermain, memanjat
  6. Aktif bersemangat terhadap bunyi-bunyian yang teratur
  7. Karakteristik kecerdasan
  8. Kurangnya kemampuan pemusatan perhatian
  9. Kemauan berpikir sangat terbatas
  10. Kegemaran untuk mengulangi macam-macam kegiatan
  11. Karakteristik sosial
  12. Hasrat besar terhadap hal-hal yang bersifat drama
  13. Berkhayal dan suka meniru
  14. Gemar akan keadaan alam
  15. Senang akan cerita-cerita
  16. Sifat pemberani
  17. Senang mendapat pujian
  18. Kegiatan gerak yang dilakukan

 

Pada tingkat rendah, dalam bermain senang menirukan sesuatu yang dilihatnya. Gerak-gerak apa yang dilihat di TV ataupun gerak-gerak yang secara langsung dilakukan oleh orang lain, teman ataupun binatang.

Anak-anak kelas rendah secara spontan menampilkan gerak-gerak dari objek yang diamatinya. Tetapi dari pengamatan objek tersebut anak menampilkan gerak yang disukainya.

Masa kelas tinggi SD, kira-kira umur 9 atau sepuluh sampai umur 12 atau 13 Sedangkan karakteristik anak SD pada tingkat tinggi memiliki sedikit persamaan denga kelas rendah. Karakteristik kelas tinggi yang dimaksud antara lain:

  1. Karakteristik umum
  2. Waktu reaksinya cepat
  3. Koordinasi otot sempurna
  4. Gemar bergerak dan bermain
  5. Karakteristik kecerdasan
  6. Mempunyai kemampuan pemusatan perhatian
  7. Kemampuan berpikir lebih banyak
  8. Karakteristik sosial
  9. Tidak suka pada hal-hal yang bersifat drama
  10. Gemar pada lingkungan sosial
  11. Senang pada cerita-cerita lingkungan sosial
  12. Sifat pemberani tetapi masih menggunakan logika
  13. Kegiatan gerak yang dilakukan

 

Anak memiliki kemamouan dalam menampilkan suatu kegiatan yang lebih tinggi. Jadi mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan dari kegiatan yang dilakukan.

Pada tahap ini anak sudah dapat menyusun atau menata susunan gerak dan objek yang diminatinya. Paling tidak anak mempunyai keberanian untuk mengkoordinasikan gerak-gerak yang dibuatnya sendiri.

Di sini anak mempunyai kemampuan psikologis motorik yang lebih tinggi, dan dapat melakukan keterampilan gerak secara urut dan tersusun dengan baik. Dengan kata lain pada tahap ini anak sudah memiliki keterampilan melakukan gerak yang cukup tinggi.

 

  1. B.       Perkembangan Tugas Anak Usia Sekolah Dasar

Pada kajian psikologi pendidikan Muhammad Surya (1992: 13) mengelompokkan ada tiga ciri utama pada masa SD, yaitu:

  1. Dorongan anak untuk keluar rumah dan masuk kedalam kelompok sebaya.
  2. Keadaan fisik yang mendorong anak untuk masuk kedalam dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan.
  3. Dorongan mental untuk memasuki dunia konsep-konsep, logika, simbol dan komunikasi secara dunia.
  4. Sejalan dengan tiga ciri utama diatas, maka perkembangan tugas pada usia SD diantaranya:
  5. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan.
  6. Membina sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai suatu organisme yang sedang berkembang.
  7. Belajar bergaul dengan teman sebaya.
  8. Belajar berperan sebagai pria atau wanita secara tepat.
  9. Mengembangkan dasar-dasar keterampilan membaca, menulis, dan berhitung dengan baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.
  10. Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
  11. Mengembangkan kata hati, moral, dan skala-skala nilai.
  12. Mencapai kemerdekaan pribadi.
  13. Mengembangkan sikap terhadap kelompok dan lembaga sosial.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Sebagai seorang calon guru profesional tentunya dituntut untuk menguasai kompetensi yang handal di bidangnya. Kompetensi yang dimaksud diantaranya adalah kompetensi pedagogik, sosial, profesional serta kepribadian. Dengan kompetensi pedagogik, maka guru diharapkan untuk dapat memahami siswanya.

Anak-anak usia SD (6-12 tahun) merupakan masa dimana anak-anak terlibat dengan dua dunia yaitu dunia bermain dan belajar. Pada masa ini, anak-anak mudah untuk dididik dari masa sebelumnya dan sesudahnya. Untuk itulah seorang guru perlu memahami sifat khas yang dimiliki anak didiknya baik kelas rendah maupun kelas tinggi. Untuk inilah maka seorang guru dituntut memahami perkembangan tugas apa yang perlu dilakukan anak pada masa ini sehingga guru dapat memperlakukan anak dengan tepat dalam proses pembelajaran.

Pengetahuan guru tentang karakteristik, fase dan perkembangan tugas anak usia SD sangat diperlukan untuk pembelajaran pendidikan seni tari dan drama di kelas. Hal ini dikarenakan dengan mamahami karakteristik, fase dan perkembangan tugas anak usia SD, guru dapat memberikan tugas sesuai dengan karakteristik perkembangan dari masing-masing kelas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Noehi. 1995. Psikologi Pendidikan.Jakarta: Universitas Terbuka

Simanjuntak, B. Dan Pasaribu, I.L. 1983. Psikologi Perkembangan (Dasar Psikologi Kriminil).Bandung: Tarsito

Siswoyo, Dwi. 2007. Kaidah-Kaidah Pendidikan.Jakarta: Triwarsana

Syukur, Sugeng. 2005. Peta Kompetensi Guru Seni (Seni Rupa, Seni Tari, Seni Musik).Bandung: Kerjasama Direktorat Jendral PMPTK Depdiknas dengan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI

Purwatiningsih. dan Ninik Harini. 1998. Pendidikan Seni Tari dan Drama.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

UU Sisdiknas Tahun 2003